Enam Negara Siap Hadir di Sambas, Satono Matangkan Agenda Dai Internasional
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sel, 31 Mar 2026

Bupati Satono foto bersama jajaran Kemenag Kalbar
Sambas, Lidik.co
Bupati Sambas, Satono, mulai memanaskan mesin diplomasi daerah. Lewat audiensi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Senin (30/3/2026), ia mematangkan agenda besar: Upgrading Da’i dan Seminar Internasional yang akan menghadirkan enam negara.
Pertemuan yang berlangsung di ruang VIP Kanwil Kemenag Kalbar itu tak sekadar silaturahmi formal. Di sana, Satono dan Kepala Kanwil, Muhajirin Yanis, menyelaraskan langkah untuk memastikan kegiatan lintas negara ini berjalan solid—dari konsep hingga eksekusi.
Event yang dijadwalkan berlangsung pada 7–9 April 2026 di Kabupaten Sambas ini akan melibatkan delegasi dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, dan Filipina. Tema yang diusung pun tidak ringan: “Sinergitas Da’i dalam Pembangunan di Wilayah Perbatasan Negara.”
Bagi Satono, forum ini bukan sekadar seremoni keagamaan. Ia melihatnya sebagai panggung strategis memperkuat peran dai di kawasan perbatasan—wilayah yang selama ini sering luput dari sorotan, padahal menjadi garda depan wajah Indonesia.
“Audiensi ini untuk memastikan seluruh persiapan kegiatan berjalan terkoordinasi dengan baik,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Pemerintah Kabupaten Sambas bersama Persaudaraan Muslimin Indonesia Kalimantan Barat juga menggandeng Kanwil Kemenag sebagai mitra substantif. Kepala Kanwil dijadwalkan hadir sebagai narasumber, mengupas subtema yang relevan dengan zaman: transformasi dai dari mimbar konvensional ke ruang publik digital.
Langkah ini menjadi sinyal jelas—dakwah tak lagi cukup mengandalkan podium dan pengeras suara. Ia harus menembus algoritma, menjangkau generasi, dan tetap menjaga substansi di tengah arus informasi yang kian liar.
Jika berjalan sesuai rencana, kegiatan ini berpotensi menjadi momentum strategis bagi Sambas: bukan hanya sebagai tuan rumah, tetapi sebagai simpul kolaborasi internasional dalam pembangunan keagamaan dan sosial di kawasan perbatasan.
Satono pun mengajak masyarakat untuk ikut mengawal dan mendukung agenda ini. Sebab, ketika dai diperkuat, yang dibangun bukan hanya narasi keagamaan—tetapi juga ketahanan sosial masyarakat itu sendiri.
- Penulis: Redaksi

















Saat ini belum ada komentar