Dapur Sehat, Limbah Bermasalah, Warga Keluhkan Bau dan Limbah Cair SPPG Semparuk
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jum, 10 Apr 2026

Foto dok istimewa Lidik.co
Sambas, Lidik.co
Program pemenuhan gizi melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Semparuk yang dikelola Yayasan Bina Nutrisi Borneo menuai sorotan warga. Setelah sempat dikeluhkan karena kebisingan, kini persoalan limbah cair menjadi perhatian karena menimbulkan bau tidak sedap hingga mengalir ke lingkungan sekitar, Jum’at (10/4/2026).

Foto dok istimewa Lidik.co
Berdasarkan pantauan di lapangan, fasilitas pengolahan limbah yang digunakan diduga belum memenuhi standar teknis Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Sistem yang ada tampak hanya berupa rangkaian bak penampungan tanpa dilengkapi tahapan pengolahan optimal, seperti pemisah lemak (grease trap) dan sistem filtrasi yang memadai.
Selain itu, terdapat indikasi aliran limbah yang mengarah langsung ke tanah terbuka dan parit di sekitar lokasi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, terutama terhadap lahan dan area persawahan warga.
Menanggapi hal tersebut, pihak pengelola SPPG Semparuk Yayasan Bina Nutrisi Borneo mengakui bahwa sistem IPAL yang ada saat ini masih dalam proses peningkatan.

Foto dok istimewa Lidik.co
“Iya, untuk saat ini kami sedang proses peningkatan IPAL karena ada kendala pada kapasitas. Kami juga menambahkan sistem filtrasi dengan acuan standar terbaru,” ujar perwakilan pengelola melalui keterangan tertulis.
Pengelola juga menyampaikan bahwa sementara waktu, limbah cair yang telah diendapkan dialirkan ke parit besar menggunakan pompa, sembari menunggu proses perakitan sistem filtrasi selesai.
Meski demikian, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Pasalnya, pembuangan limbah cair tanpa pengolahan optimal berpotensi tidak memenuhi baku mutu lingkungan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Keluhan warga pun mulai bermunculan. Salah satu warga yang rumahnya berada tepat di samping lokasi SPPG mengaku aktivitas sehari-harinya terganggu akibat bau tidak sedap yang ditimbulkan.
“Rumah saya pas di samping SPPG, hanya dipisahkan oleh selokan. Aktivitas puasa dan Lebaran kami sangat terganggu oleh bau yang tidak sedap,” ujarnya, seraya meminta namanya tidak disebutkan.
Ia berharap persoalan tersebut segera mendapat penanganan serius, khususnya dari pihak pengelola.
Keluhan serupa juga disampaikan Dul, warga Dusun Semparuk Sutera yang rumahnya berada di bagian belakang lokasi dapur. Ia mengungkapkan bahwa limbah cair dari aktivitas dapur sempat meluap hingga menggenangi area sekitar rumahnya.
“Air limbah dari dapur itu tumpah, masuk ke parit sawah, bahkan sempat menggenangi halaman di samping rumah kami. Kami minta pihak pengelola segera bertindak karena ini sudah mengganggu kenyamanan lingkungan,” katanya.
Meski demikian, warga menegaskan bahwa mereka pada dasarnya mendukung program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan di wilayah tersebut. Namun mereka berharap pelaksanaannya tetap memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar.
“Kami mendukung program ini, tapi pengelola juga harus memperhatikan lingkungan tempat mereka beroperasi,” tambahnya.
Sebelumnya, warga juga sempat mengeluhkan kebisingan dari dalam gedung SPPG. Namun pihak pengelola mengaku telah menindaklanjuti hal tersebut dengan memberikan teguran kepada para pekerja, sehingga kini tidak lagi menimbulkan gangguan.
Diketahui, SPPG Semparuk Yayasan Bina Nutrisi Borneo berlokasi di Jalan Bahagia, Dusun Semparuk Sutera, Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, dan telah beroperasi sejak sebelum Idul Fitri 2026.
Program gizi yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat diharapkan tidak menimbulkan persoalan baru di lingkungan. Perbaikan sistem pengelolaan limbah menjadi kunci agar manfaat program tetap sejalan dengan kenyamanan warga sekitar.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Radiman Lah

















Saat ini belum ada komentar