Beredar Narasi “Prabowo Marah ke Bupati Sambas” Ini Faktanya
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sab, 11 Apr 2026

Foto dok istimewa by AI Lidik.co design
Sambas,Lidik.co
Sebuah unggahan di media sosial Facebook yang mengklaim Prabowo Subianto marah kepada Bupati Sambas Satono karena dinilai gagal mengelola APBD, dipastikan tidak benar alias hoaks.
Narasi tersebut menyebut adanya ketidaksesuaian anggaran hingga ratusan miliar rupiah, lengkap dengan foto yang seolah menggambarkan momen ketegangan antara tokoh nasional dan kepala daerah. Namun setelah ditelusuri, informasi tersebut tidak memiliki dasar fakta yang valid.
Pemerintah Kabupaten Sambas melalui klarifikasi resminya menegaskan bahwa foto yang digunakan dalam unggahan tersebut bukanlah peristiwa konflik atau kemarahan, melainkan dokumentasi kegiatan resmi, yakni momen pelantikan kepala daerah secara serentak.
Artinya, visual yang digunakan memang nyata, tetapi konteksnya telah dipelintir.
Fenomena ini menunjukkan pola klasik penyebaran disinformasi, di mana konten visual yang sah dipadukan dengan narasi yang dimanipulasi untuk membentuk persepsi publik tertentu. Penggunaan nama tokoh nasional seperti Prabowo Subianto dalam narasi juga diduga bertujuan memperkuat efek psikologis agar informasi lebih mudah dipercaya masyarakat.
Selain itu, penyebutan angka besar tanpa rujukan data yang jelas menjadi strategi lain untuk memancing emosi publik, terutama dalam isu yang sensitif seperti pengelolaan anggaran daerah.
Pengamat komunikasi publik menilai, pola seperti ini tidak bisa dianggap sebagai kesalahan biasa. Dalam banyak kasus, disinformasi semacam ini digunakan sebagai alat untuk membentuk opini, bahkan berpotensi menyerang kredibilitas individu maupun institusi pemerintahan.
Di tengah arus informasi digital yang semakin cepat, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dan tidak langsung mempercayai setiap informasi yang beredar, terutama yang menyangkut tokoh publik dan isu strategis.
Verifikasi menjadi kunci. Sebab di era ini, bukan hanya fakta yang bisa disebarkan narasi pun bisa direkayasa.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Radiman Lah

















Saat ini belum ada komentar