Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Sen, 26 Jan 2026

Menyapa Negeri adalah ruang berbagi catatan, kegelisahan, dan renungan tentang Indonesia dari sudut pandang warga dan penulis. Kolom ini tidak menggurui dan tidak menghakimi. Ia hadir untuk menyapa dengan jujur, dengan nalar sehat, dan dengan rasa.

 

Banyak guru honorer mengeluh merasa diperlakukan tidak adil oleh negara. Mereka mengabdi bertahun-tahun dengan berlinang air mata, namun begitu sulit diangkat menjadi pegawai PPPK. Sementara pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang relatif baru, justru lebih cepat mendapatkan status aparatur negara. Benarkah demikian? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di sebuah negeri yang gemar berpidato tentang masa depan, lahirlah sebuah program yang diperlakukan seperti anak mahkota kerajaan: Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia dikawal jenderal, dielus regulasi, dipamerkan ke luar negeri, dan disanjung sebagai fondasi generasi emas. Negara menunduk hormat padanya.

Namun jauh dari panggung megah itu, di ruang-ruang kelas yang catnya mengelupas, tragedi sunyi sedang berlangsung. Tanpa kamera, tanpa karpet merah, tanpa tepuk tangan.

Berdasarkan data Kemendikbudristek, terdapat sekitar 4,21 juta guru di Indonesia pada tahun ajaran 2024/2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 hingga 1,7 juta masih berstatus honorer. Mereka datang paling pagi dan pulang paling sore. Mereka menulis di papan tulis sambil menghitung sisa beras di rumah.

Gaji mereka sering kali hanya berkisar Rp300 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Bahkan, di beberapa daerah, jumlah itu lebih kecil dari biaya parkir pejabat dalam sebulan. Namun mereka bertahan. Karena di negeri ini, mengajar selalu disebut sebagai “pengabdian”, sebuah kata indah yang kerap dipakai untuk menutupi ketidakadilan.

Lalu datanglah SPPG, tulang punggung program MBG. Melalui Perpres Nomor 115 Tahun 2025, negara membuka jalur yang relatif lebih cepat menuju status PPPK. Masa kerja bisa kurang dari satu tahun, seleksi cukup melalui CAT, dan sekitar 32.000 pegawai inti—kepala SPPG, ahli gizi, hingga akuntan—diproyeksikan menjadi PPPK. Total ekosistemnya bahkan mencapai lebih dari 700 ribu orang.

Negara bergerak cepat, secepat tangan ibu menyuapi anak kesayangannya.

Begitu status PPPK disematkan, angka-angka pun berubah drastis. Berdasarkan Perpres Nomor 11 Tahun 2024, gaji PPPK tahun 2025 berkisar antara Rp1,79 juta hingga Rp5,77 juta per bulan, tergantung golongan. Pegawai inti SPPG umumnya berada di kisaran Rp3 hingga Rp5 juta.

Angka-angka ini terdengar seperti dongeng bagi guru honorer yang telah mengabdi lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun. Mereka mengajar anak-anak yang kini menikmati makan bergizi gratis, sambil menahan lapar struktural yang tak pernah masuk laporan resmi.

Ironi ini makin terasa jika dibandingkan dengan perangkat desa. Kepala desa menerima penghasilan sekitar Rp2,42 juta per bulan, sekretaris desa Rp2,22 juta, dan perangkat lainnya sekitar Rp2,02 juta. Stabil, meski tidak melonjak.

Sementara guru honorer masih menggantung di langit-langit kebijakan. Kebijakan negara seolah lebih cepat memberi penghargaan pada sektor tertentu dibanding dunia pendidikan. Seakan mengurus dapur lebih cepat dihargai daripada membangun akal.

Organisasi guru seperti PGRI dan forum honorer telah lama bersuara. Mereka menuntut keadilan, bukan belas kasihan. Mereka tidak menolak MBG. Mereka hanya bertanya, dengan suara bergetar: mengapa kami selalu diminta sabar? Mengapa jalur PPPK kami penuh rintangan, sementara jalur lain dibentangkan seperti jalan tol tengah malam?

Yang lebih menyakitkan, hingga kini program MBG masih bertumpu pada Perpres dan Keppres, belum secara khusus diatur dalam Undang-Undang. Namun perlakuannya sudah seperti hukum abadi. Sementara guru, yang menjadi tulang punggung peradaban, masih menunggu pengakuan negara yang mereka layani setiap hari.

Inilah tragedi kita.

Anak-anak kenyang, tetapi guru mereka lapar. Negara merayakan masa depan, sambil mengorbankan masa kini. Di ruang kelas, air mata tidak jatuh karena sedih semata, tetapi karena merasa dilupakan. Di situlah ironi paling kejam bersemayam.

Negeri ini memberi makan tubuh anak-anaknya, tetapi membiarkan jiwa para pendidiknya perlahan kelaparan.

Program sebesar apa pun akan kehilangan makna jika dijalankan dengan mengabaikan keadilan bagi mereka yang paling setia mengabdi. Guru bukan hiasan pidato dan bukan sekadar angka di laporan. Mereka adalah nadi peradaban.

Jika murid dijamin gizinya, maka martabat gurunya wajib dijamin keadilannya.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Catatan Redaksi:

Tulisan yang dimuat “Kolom Menyapa Negeri” bertujuan untuk membuka ruang opini dan refleksi di Lidik.co dan terbuka bagi penulis lintas latar belakang. Pandangan dalam tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi.

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wujudkan Swasembada Pangan, Dandim 1208/Sambas Dampingi Wakil Kepala Koordinator Kalbar Tanam Padi Varitas Inpari

    Wujudkan Swasembada Pangan, Dandim 1208/Sambas Dampingi Wakil Kepala Koordinator Kalbar Tanam Padi Varitas Inpari

    • calendar_month Sel, 5 Agu 2025
    • account_circle Rudi.k
    • visibility 67
    • 0Komentar

    SAMBAS.LIDIK.CO Wujudkan Swasembada Pangan Dandim 1208/Sambas Dampingi Wakil Kordinator Swasembada Pangan Wilayah Kalimantan Barat, Tanam Padi Varitas inpari 32 bersama kelompok Tani Opslah Poktan Usaha Baru yang dilaksanakan di Jalan Teluk Nangka Dusun Simpuan, Desa Singaraya, Kec. Semparuk Kab. Sambas, Selasa (05/08/25). Dalam sambutan Kepala BPSIP Prov Kalbar Bapak Anjar Suprapto S.I.P.,M.P menyampaikan apresiasi kepada […]

  • Bagaimana Cara Pemerintah Mengetahui Usia Pengguna? Ini Tantangan Aturan Medsos di Bawah 16 Tahun

    Bagaimana Cara Pemerintah Mengetahui Usia Pengguna? Ini Tantangan Aturan Medsos di Bawah 16 Tahun

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Foto ilustrasi AI   Kebijakan penonaktifan akun media sosial anak di bawah 16 tahun mulai 28 Maret 2026 memunculkan tantangan besar: bagaimana memverifikasi usia pengguna di ruang digital. Kebijakan pemerintah yang akan menonaktifkan akun media sosial pengguna di bawah usia 16 tahun mulai 28 Maret 2026 menimbulkan satu pertanyaan penting: bagaimana cara memastikan usia pengguna […]

  • Progres Peningkatan Irigasi Rawa Tebas Komplek Capai 80–85 Persen, Target Rampung Oktober

    Progres Peningkatan Irigasi Rawa Tebas Komplek Capai 80–85 Persen, Target Rampung Oktober

    • calendar_month Sel, 4 Agu 2026
    • account_circle Hunter
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Foto istimewa Sambas, Lidik.co – Pekerjaan Peningkatan Daerah Irigasi Rawa Tebas Komplek (Kebun Jeruk) di Kabupaten Sambas terus berlanjut di lokasi pekerjaan yang terletak di Desa Tebas Sungai, Senin (3/8/2026). Berdasarkan hasil pemantauan sejumlah awak media di lokasi proyek, pelaksanaan pekerjaan telah memasuki tahap akhir dengan progres fisik yang disebut mencapai sekitar 80 hingga 85 […]

  • Bupati Sambas Resmikan Ruang Perawatan Nifas RSUD Pemangkat

    Bupati Sambas Resmikan Ruang Perawatan Nifas RSUD Pemangkat

    • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Bupati Sambas resmikan Ruang Perawatan Nifas RSUD Pemangkat, Perkuat Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Sambas, Lidik.co Pembangunan sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas utama Pemerintah Kabupaten Sambas dalam mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas, merata, dan berkeadilan. Komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui penguatan kebijakan dan dukungan anggaran, tetapi juga melalui kehadiran langsung pimpinan daerah dalam […]

  • Dukung Pelestarian Budaya, Polres Luwu Utara Kawal Lomba Balap Perahu Bala-Bala

    Dukung Pelestarian Budaya, Polres Luwu Utara Kawal Lomba Balap Perahu Bala-Bala

    • calendar_month Ming, 10 Agu 2025
    • account_circle Rudi.k
    • visibility 79
    • 0Komentar

    LUWU-UTARA.LIDIK.CO Pelabuhan Desa Munte, Kecamatan Tana Lili, pada Minggu (10/8/2025) siang dipenuhi keceriaan dan antusiasme warga. Ratusan masyarakat memadati area dermaga untuk menyaksikan pembukaan Lomba Balap Perahu Bala-Bala yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Acara yang dimulai pukul 11.00 WITA ini dihadiri Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, ST., […]

  • Mobil Diduga Bermuatan Tujuh Jeriken Pertalite Terbakar di SPBU Simpuan Semparuk

    Mobil Diduga Bermuatan Tujuh Jeriken Pertalite Terbakar di SPBU Simpuan Semparuk

    • calendar_month Jum, 5 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 92
    • 0Komentar

    SPBU 64.794.06 yang terbakar Sambas, Lidik.co – Kebakaran hebat melanda SPBU 64.794.06 Singaraya atau SPBU Simpuan yang berada di Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kamis malam, (4/6/2026). Kobaran api yang disertai ledakan sempat membuat panik warga dan pengguna jalan yang berada di sekitar lokasi kejadian. Berdasarkan keterangan sejumlah warga yang berada di tempat kejadian, api diduga […]

expand_less Back to top