Pertamax Naik Tinggi
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rab, 10 Jun 2026

EDITORIAL: Pertamax Naik Tinggi, Daya Tahan Ekonomi Masyarakat Kembali Diuji
Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter kembali memunculkan pertanyaan besar tentang daya tahan ekonomi masyarakat di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
PT Pertamina Patra Niaga menyebut penyesuaian harga tersebut dilakukan berdasarkan evaluasi berkala dengan mempertimbangkan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah. Secara regulasi dan mekanisme pasar, alasan itu dapat dipahami. Namun dalam realitas sosial, dampaknya tetap menimbulkan kegelisahan.
Memang benar, Pertamax bukan BBM yang dominan digunakan masyarakat ekonomi bawah. Mayoritas pekerja lapangan, sopir travel, pelaku UMKM, hingga wartawan daerah cenderung menggunakan BBM yang lebih terjangkau demi menekan biaya operasional harian.
Namun kenaikan Pertamax tetap memiliki dampak psikologis dan ekonomi yang luas. Pengguna kendaraan dengan spesifikasi minimal RON 92 praktis tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti kenaikan harga. Kondisi ini terutama dirasakan kelompok menengah yang tidak memperoleh subsidi, tetapi juga belum sepenuhnya stabil menghadapi lonjakan pengeluaran rutin.
Di sisi lain, kenaikan BBM nonsubsidi juga berpotensi memengaruhi biaya distribusi, transportasi tertentu, hingga pola konsumsi masyarakat secara bertahap. Efeknya mungkin tidak langsung terlihat dalam sehari, tetapi perlahan dapat menambah tekanan terhadap daya beli.
Pemerintah memang memiliki kewajiban menjaga stabilitas fiskal dan ketahanan energi nasional. Akan tetapi, setiap kebijakan ekonomi tetap perlu mempertimbangkan kondisi riil masyarakat yang saat ini masih berhadapan dengan tekanan kebutuhan hidup sehari-hari.
Karena pada akhirnya, bagi sebagian masyarakat, kenaikan harga BBM bukan sekadar perubahan angka di papan SPBU, melainkan penanda bahwa biaya bertahan hidup kembali bertambah.
- Penulis: Redaksi

















Saat ini belum ada komentar