Tradisi Sya’banan Masyarakat Sambas
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rab, 28 Jan 2026

Tradisi Sya’banan di Kabupaten Sambas identik dengan pembacaan Tahlil dan sedekah makan yang masih dipertahankan hingga hari ini

Foto Lidik.co
Bagi masyarakat Kabupaten Sambas, bulan Sya’ban bukan sekadar penanda datangnya Ramadan. Ia dikenal sebagai bulan arwah, bulan di mana hampir seluruh warga memanjatkan doa untuk orang tua, keluarga, dan leluhur yang telah wafat.
Di bulan inilah berjuta-juta doa mengalir dari rumah ke rumah, dari surau ke surau, dari hati ke hati. Doa-doa itu menjadi pengikat batin antara generasi yang hidup dan mereka yang telah lebih dahulu kembali kepada Sang Pencipta.

Makan Sya’banan
Tradisi Ruwahan menjadi salah satu wujud utama dari penghormatan tersebut. Warga berkumpul, membaca tahlil, dan memanjatkan doa bersama. Bukan sekadar ritual, tetapi ekspresi cinta dan bakti yang tak pernah terputus oleh kematian.
Sementara itu, tradisi makan-makan atau Saro’an Sya’banan hadir sebagai bentuk berbagi rezeki. Hidangan disajikan dalam bentuk saprahan, dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan.
Lebih dari sekadar jamuan, seluruh sajian itu diniatkan sebagai sedekah. Pahalanya dipersembahkan untuk orang tua dan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Setiap suap yang dinikmati tamu, setiap doa yang dipanjatkan, menjadi amal yang terus mengalir bagi mereka yang telah tiada.
Tradisi Nyarouk dan undangan dari rumah ke rumah memperkuat nilai silaturahmi. Tidak ada sekat status, tidak ada jarak sosial. Semua duduk sama rendah, makan bersama, dan saling mendoakan.
Puncak spiritual Sya’banan terasa pada malam Nisfu Sya’ban. Selepas sholat fardhu Isya, masyarakat Sambas berkumpul di masjid untuk memanjatkan doa bersama. Mereka memohon keberkahan rezeki, kesehatan, dan umur panjang agar dapat kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan.
Malam itu menjadi ruang muhasabah, tempat setiap insan merefleksikan diri, memohon ampunan, dan memperbaiki niat menuju bulan penuh rahmat.
Selama Sya’banan terus dirawat, selama doa terus dipanjatkan, Sambas akan selalu hidup dalam keberkahan dan nilai-nilai luhur warisan leluhurnya. Tradisi ini bukan hanya menjaga hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga menguatkan hubungan dengan Sang Pencipta.
- Penulis: Redaksi

















Saat ini belum ada komentar