Evaluasi dan Keterbukaan Jadi Sorotan, SPPG Teluk Keramat Tegaskan Komitmen Perbaikan Menu MBG
- account_circle Radiman Lah
- calendar_month Sab, 28 Feb 2026

Sambas, Lidik.co
Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, membuka ruang evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Harapan tersebut disampaikan Ovi Febioana, salah satu pihak pengelola, menyusul berbagai dinamika dan respons publik yang berkembang di masyarakat, terutama di media sosial, Jum’at (27/2/2026).
Menurut perempuan yang menyandang Ahli Madya Gizi (Amd.Gz) ini, evaluasi diperlukan bukan pada aspek pengolahan makanan di dapur, melainkan pada efektivitas pengawasan dan peran relawan di lapangan. Ia menilai masih terdapat pengelolaan yang belum optimal, terutama dalam memastikan menu yang didistribusikan benar-benar memenuhi standar gizi seimbang.
“Yang perlu dievaluasi itu bukan cara memasaknya, tapi pengawasan dan keterlibatan relawan. Kita ingin memastikan setiap menu yang keluar benar-benar sesuai kandungan gizinya,” ujarnya.
Permintaan evaluasi ini lebih ditujukan kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Di sisi lain, Ovi juga mengimbau masyarakat agar bijak dalam berkomentar di media sosial. Ia menekankan bahwa informasi yang beredar di platform seperti Facebook belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Ia mencontohkan, apabila SPPG mendistribusikan telur rebus, tidak menutup kemungkinan beredar foto berbeda yang bukan berasal dari dapur SPPG. Kondisi semacam itu, kata dia, dapat memicu kesalahpahaman jika diterima mentah-mentah tanpa klarifikasi.
“Jangan langsung percaya dan berkomentar menohok. Kalau ada keluhan, lebih baik disampaikan langsung kepada kami,” tegasnya.
SPPG Teluk Keramat, lanjut Ovi, tidak alergi terhadap kritik. Bahkan, pihaknya membuka diri terhadap saran dan masukan yang konstruktif demi perbaikan bersama. Namun ia berharap kritik disampaikan secara langsung agar dapat segera ditindaklanjuti, bukan sekadar menjadi polemik di ruang digital.
Terkait mekanisme distribusi MBG, Ovi menjelaskan alur penyaluran dilakukan melalui guru sebelum sampai ke siswa. Apabila terdapat kekurangan menu, siswa melapor kepada guru, kemudian diteruskan ke pihak SPPG.
“Misalnya ada kekurangan satu butir telur, kami langsung mengganti. Kami punya asisten lapangan yang bertugas membenahi jika ada kekurangan,” jelasnya.

Foto Lidik.co
Ia juga berharap orang tua siswa tidak langsung meluapkan keluhan di media sosial, melainkan menyampaikan secara langsung agar solusi bisa segera diberikan.
Sementara menurut kepala SPPG, Halimahtussa’diah menambahkan harapannya agar program MBG benar-benar membawa manfaat luas dan dapat berkelanjutan. Ia memahami bahwa sebagai program baru, MBG masih dalam tahap penyesuaian sehingga wajar jika sensitif terhadap kritik. Namun menurutnya, justru di fase inilah komitmen dan pengawasan harus diperkuat.
Di tempat yang sama, Andri Saputra selaku mitra SPPG Teluk Keramat menyatakan optimisme bahwa program MBG di wilayahnya dapat berjalan baik dan lancar. Ia mengungkapkan sejumlah inovasi yang telah dilakukan untuk meningkatkan mutu gizi menu.
Salah satunya adalah menyisipkan satu buah semangka utuh dalam paket MBG. Dalam waktu dekat, pihaknya juga berencana menambahkan satu buah naga utuh sehingga menu MBG semakin bervariasi dan tidak buah itu-itu saja yang disuguhkan.
“Ini bentuk komitmen kami untuk meningkatkan mutu gizi anak-anak,” terangnya.
Menanggapi maraknya komplain menu MBG di bulan suci Ramadhan di Kabupaten Sambas, Andri yang karib disapa Dedek ini mengaku mengambil langkah berbeda. Jika di beberapa wilayah terdapat keluhan terkait kue atau roti pasaran yang diragukan kandungan gizinya, ia memilih menjalin kerja sama dengan usaha pembuatan kue rumahan.
Kerja sama tersebut tidak sekadar memenuhi kebutuhan menu, tetapi juga memastikan setiap produk—seperti roti isi kacang hijau atau abon—diproduksi sesuai standar gizi dan kandungan protein yang seimbang.
“Kami pastikan produksi makanan seperti roti isi benar-benar mengandung gizi dan protein yang sesuai,” tegas pria berambut gondrong ini mantap.
Selain fokus pada kualitas menu, keberadaan SPPG Teluk Keramat juga memberikan dampak ekonomi dengan menyerap hampir 50 tenaga kerja. Pengelola menegaskan bahwa rekrutmen dilakukan dengan prinsip non-diskriminasi dan kesempatan kerja yang setara.
Dengan komitmen pada evaluasi, keterbukaan kritik, inovasi menu, serta pemberdayaan tenaga kerja lokal, SPPG Teluk Keramat berharap program MBG dapat terus diperbaiki dan menjadi fondasi kuat dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak di Kabupaten Sambas.
- Penulis: Radiman Lah
- Editor: Radiman Lah

















Saat ini belum ada komentar