Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Lidik Lifestyle » Takut Hisab, Bukan Takut Jabatan, Pelajaran dari Umar bin Khattab

Takut Hisab, Bukan Takut Jabatan, Pelajaran dari Umar bin Khattab

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Jum, 20 Feb 2026

Foto ilustrasi oleh AI

 

Tulisan keempat Edisi Ramadan. Pilihannya pada khalifah Umar bin Khattab.

Kalian pasti sudah tahu ketegasan dan kejujurannya dalam memimpin negara. Layak dijadikan teladan bagi penguasa saat ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau dunia hari ini kekurangan pemimpin berani, mungkin kita memang lagi defisit stok manusia tipe Umar bin Khattab. Lahir sekitar 584 M di Makkah, 13 tahun setelah Tahun Gajah, dibesarkan ayah keras yang tak segan memukul kalau malas menggembala, ditempa gurun, ditempa konflik, ditempa kenyataan hidup, bukan ditempa tim kreatif dan konsultan pencitraan. Tinggi besar, jago gulat, fasih pidato, pedagang lintas Syam dan Persia. Paket lengkap. Bahkan sebelum Islam, beliau masih ikut tradisi Jahiliyah seperti minum khamar. Jangan kira beliau malaikat turun dari langit. Beliau manusia. Bedanya, ketika dapat kebenaran, beliau berubah total, bukan sekadar ganti jargon.

Tahun 616 M, Umar yang awalnya mau membunuh Rasulullah, justru runtuh oleh Surah Thaha. Dari tangan yang menampar adiknya sampai berdarah, berubah jadi tangan yang gemetar membaca ayat. Masuk Islam. Digelari Al-Faruq, pembeda haq dan batil. Zaman sekarang mungkin gelarnya bisa saja dipelintir jadi “pembeda mana proyek dan mana komisi”, tapi Umar jelas beda kelas.

Beliau salat terang-terangan di Ka’bah dengan pedang terhunus. Hijrah terbuka. Ikut Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, Fathu Makkah. Menyerahkan setengah hartanya untuk Tabuk. Setelah Rasulullah wafat tahun 632 M, beliau sempat terguncang, ya manusiawi, tapi cepat sadar dan berdiri menjaga stabilitas umat. Ikut membantu Abu Bakar menumpas Perang Riddah dan mengusulkan pengumpulan Alquran jadi mushaf. Fokusnya negara dan akidah, bukan bagi-bagi jabatan strategis.

Tahun 634 M jadi khalifah kedua. Sepuluh tahun kepemimpinannya (634–644 M) seperti meteor politik yang menghantam peta dunia. Persia runtuh. Dua pertiga Bizantium, Suriah, Palestina, Mesir, Libya, bergeser tangan. Yarmuk, Qadisiyyah, Nahawand. Beliau mendirikan Basra dan Kufah. Bangun kanal dari Nil ke Laut Merah. Bentuk Diwan untuk gaji tentara dan pegawai. Dirikan Baitul Mal. Tunjangan anak. Pensiun janda. Bantuan fakir miskin termasuk non-Muslim. Perkenalkan kalender Hijriyah berdasarkan Hijrah 622 M. Lakukan sensus penduduk.

Coba bayangkan, abad ke-7 sudah ada sistem gaji dan kesejahteraan sosial. Sekarang abad ke-21, masih ada yang sibuk sensus suara, bukan sensus kemiskinan. Umar membangun sistem agar negara rapi. Bukan membangun sistem agar kursi tetap aman.

Ketegasannya? Beliau memecat Khalid bin Walid, jenderal legendaris, karena takut umat bergantung pada manusia, bukan Allah. Nuan bayangkan, memecat jenderal paling populer. Di zaman kita, memecat pejabat populer itu bisa bikin rating turun, trending negatif, dan konsultan panik setengah mati. Umar? Tenang saja. Prinsip di atas popularitas.

Saat paceklik 638 M, beliau hanya makan roti dan minyak zaitun. Perutnya keroncongan, ditepuk sambil berkata, “Diamlah sampai rakyat kenyang.” Coba bandingkan dengan standar modern, rakyat antre sembako, pejabat antre katering premium. Umar memanggul sendiri gandum untuk janda miskin. Bukan unggah foto sambil kasih caption, “Turun langsung ke lapangan.” Kisah memanggul gandum ini, kok jadi ingat sosok yang itu, ya, ups.

Soal anti-korupsi? Umar melarang gubernur berdagang. Seorang pegawainya untung besar, langsung disita dan masuk Baitul Mal. “Kami mengutusmu memimpin, bukan berdagang.” Tegas. Tidak ada kalimat, “Itu kan hak pribadi.” Tidak ada dalih, “Sudah sesuai prosedur.” Bahkan ketika beliau sendiri kalah di pengadilan dalam sengketa kuda, beliau tunduk pada keputusan hakim. Kepala negara kalah di sidang dan tidak bikin drama konferensi pers. Tidak ada rumah hakim yang tiba-tiba esoknya terbakar.

Keadilan beliau legendaris. Seorang pemuda Mesir dipukul putra gubernur. Umar panggil gubernur dan anaknya ke Madinah. Si pemuda disuruh membalas pukulan itu di depan umum. Lalu kalimat yang mengguncang zaman: “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan merdeka?” Itu abad ke-7. Abad kita masih debat panjang soal etika kekuasaan.

Lalu datang pagi 3 November 644 M, 26 Dzulhijjah 23 H. Subuh baru menyingsing. Umar memimpin salat di Masjid Nabawi. Suara bacaan ayat mengalun tenang. Tidak ada sirine pengawal. Tidak ada rompi antipeluru. Tidak ada pagar berlapis baja. Seorang budak Persia, Abu Lu’lu’ah, menyelinap dengan belati bermata dua. Kilatan besi membelah udara fajar.

Tikaman pertama. Kedua. Ketiga. Enam tusukan. Darah mengalir di atas sajadah. Jamaah panik. Pelaku mengamuk sebelum bunuh diri. Umar roboh. Tapi kalimat pertama yang keluar dari lisannya bukan, “Tangkap dia!” Bukan, “Amankan kursi kekuasaan!” Melainkan, “Apakah kaum Muslimin sudah menyelesaikan salatnya?”

Dalam kondisi luka parah, beliau masih memikirkan salat umat. Bukan memikirkan siapa yang akan jadi ahli waris politik. Bahkan menjelang wafat, beliau membentuk tim enam sahabat, termasuk Utsman dan Ali, untuk memilih pengganti. Tidak menunjuk anak. Tidak menunjuk kerabat. Tidak bikin dinasti. Tidak bikin aturan dadakan demi memperpanjang napas kekuasaan.

Beliau wafat di usia sekitar 60 tahun, dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Lelaki yang mengguncang imperium, mati di atas sajadah, bukan di atas singgasana empuk.

Di sinilah sindirannya terasa halus tapi pedas. Umar takut jika seekor anjing mati kelaparan di tepi Sungai Efrat, ia akan dimintai pertanggungjawaban. Zaman sekarang, kadang ada yang tak takut walau rakyatnya mati pelan-pelan di tepi anggaran.

Umar bukan malaikat. Beliau manusia. Tapi manusia yang sadar bahwa jabatan itu amanah, bukan ATM. Kekuasaan itu tanggung jawab, bukan warisan keluarga. Popularitas itu debu, keadilan itu inti.

Sekarang pertanyaannya sederhana tapi bikin meriang, kalau Umar hidup hari ini, siapa yang paling duluan berkeringat dingin?

  • Penulis: Rosadi Jamani
  • Editor: Radiman Lah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ratusan Pelayat Baik Dari Keluarga Ataupun Sahabat Mengantar Jenazah Tokoh Aktivis 98 Tumpal Simaremare ke Pemakaman

    Ratusan Pelayat Baik Dari Keluarga Ataupun Sahabat Mengantar Jenazah Tokoh Aktivis 98 Tumpal Simaremare ke Pemakaman

    • calendar_month Sen, 22 Des 2025
    • account_circle Lily
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Palembang ,  LIDIK.CO  – Dunia pergerakan Indonesia kembali berduka dengan meninggalnya Tumpal Simaremare Bin Jautar Simaremare, salah satu putra terbaik bangsa sekaligus saksi sejarah transisi demokrasi. Almarhum menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 21 Desember 2025, pukul 16.50 WIB di Palembang. Kepergian Tumpal Simaremare meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat, serta menyentak memori kolektif bangsa […]

  • Anggota Koramil 05/Pemangkat Laksanakan Komsos Bersama Petani

    Anggota Koramil 05/Pemangkat Laksanakan Komsos Bersama Petani

    • calendar_month Sen, 23 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Sambas, Lidik.co Dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi dan mendukung ketahanan pangan di wilayah binaan, Anggota Koramil 05/Pemangkat Kodim 1208/Sambas melaksanakan kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) bersama para petani padi yang berada di Dusun Tebing Buluh, Desa Jelutung, Kecamatan Pemangkat, Minggu (22/02/2026). Kegiatan komsos tersebut dilaksanakan di area persawahan saat para petani sedang melakukan perawatan tanaman padi. […]

  • Warga Paloh Surati Gubernur Kalbar, Minta Jalan Provinsi Malek–Liku dan Setinggak–Merbau Dituntaskan

    Warga Paloh Surati Gubernur Kalbar, Minta Jalan Provinsi Malek–Liku dan Setinggak–Merbau Dituntaskan

    • calendar_month Jum, 3 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Kondisi ruas jalan provinsi di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, yang dikeluhkan warga karena rusak dan belum tuntas pembangunannya. Warga meminta Gubernur Kalbar menuntaskan penanganan ruas Malek–Liku dan Setinggak–Merbau. Foto: Dok. Yetno M Amin. Sambas, Lidik.co — Keluhan terhadap kondisi jalan provinsi di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, kembali mencuat. Seorang warga Paloh, Yetno M Amin, melayangkan […]

  • Kades Ratu Sepudak Berterima Kasih Kepada Satgas TMMD ke-126 Kodim 1208/Sambas
    TNI

    Kades Ratu Sepudak Berterima Kasih Kepada Satgas TMMD ke-126 Kodim 1208/Sambas

    • calendar_month Ming, 2 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Sambas, Lidik.co   Kepala Desa Ratu Sepudak Muhkart mengucapkan banyak terima kasih kepada Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-126 Kodim 1208/Sambas yang telah berperan besar dalam pembangunan di desanya. Dalam pelaksanaan program TMMD yang berlangsung di Desa Ratu Sepudak, berbagai pembangunan fisik telah dikerjakan, seperti rabat beton jalan, pembangunan MCK masjid dan […]

  • Forum Bersama Aktivis Sumsel dan JAKOR Gelar Aksi Damai di Kejati Sumsel Terkait Kasus Korupsi PALI

    Forum Bersama Aktivis Sumsel dan JAKOR Gelar Aksi Damai di Kejati Sumsel Terkait Kasus Korupsi PALI

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2026
    • account_circle Lily
    • visibility 8
    • 0Komentar

    LIDIK.CO ,Palembang _ Maraknya kasus dugaan korupsi di berbagai daerah khususnya Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memicu Forum Bersama Aktivis Sumsel dan LSM Jaringan Anti Korupsi (JAKOR) menggelar aksi damai di Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan (Kejati Sumsel). Koordinator Aksi (Korak) Forum Bersama Aktivis Sumsel, M. Arifin dengan tegas menyampaikan, mendukung penuh terhadap kinerja Kejati Sumsel termasuk […]

  • Kodim 1208/Sambas Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H 2026 M

    Kodim 1208/Sambas Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H 2026 M

    • calendar_month Kam, 12 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Sambas, Lidik.co Dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT di bulan suci Ramadhan, Kodim 1208/Sambas menggelar peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah yang berlangsung dengan khidmat di Masjid Mujahidin Makodim 1208/Sambas, Jalan Tabrani, Desa Lumbang, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kamis (12/03/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh Dandim 1208/Sambas Letkol Inf Dwiyanto Kusumo serta dihadiri oleh […]

expand_less Back to top