Pembangunan Pintu Air Irigasi di Sambas Senilai Rp 18,4 Miliar Disorot, Mutu Beton Jadi Pertanyaan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sen, 25 Agu 2025

Lidik.co, Sambas, Kalimantan Barat – Proyek pembangunan bangunan dan pintu air irigasi di Kabupaten Sambas yang dikerjakan oleh PT Anugrah Bayuraya Perkasa mulai mendapat sorotan publik. Proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp18.445.243.000 itu dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 dan memiliki waktu pelaksanaan selama 120 hari kalender.
Berdasarkan data yang tertera di papan proyek, pekerjaan ini berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Pontianak. Kontrak ditandatangani pada 28 Mei 2025 dengan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) tertanggal 3 Juni 2025.

Namun, pantauan di lapangan memperlihatkan pembangunan masih sebatas struktur beton dasar. Beberapa bagian dinding dan pondasi pintu air sudah terlihat, tetapi belum ada pemasangan komponen pintu air maupun bagian pelengkap lainnya. Senin, (25/8/25).
Sejumlah pemerhati konstruksi menyoroti mutu beton yang digunakan dalam proyek ini. Pasalnya, kualitas beton menjadi salah satu faktor penentu kekuatan dan ketahanan bangunan irigasi. Umumnya, konstruksi irigasi membutuhkan mutu beton minimal kelas K175 dengan kuat tekan 17,2 MPa.
Meski demikian, menentukan kelas beton tidak bisa hanya dilihat dari tampilan luar. Ada beberapa metode yang lazim digunakan untuk memastikan mutu beton, antara lain:
1. Hammer Test (Rebound Hammer): Mengukur kekerasan permukaan beton dengan alat Schmidt Hammer, lalu dibandingkan dengan tabel mutu.
2. Core Drill (Uji Bor Inti): Mengambil sampel beton menggunakan bor inti untuk diuji di laboratorium. Cara ini dianggap paling akurat.
3. Pengamatan Kasar: Melihat kerapatan, warna, hingga suara saat diketuk palu. Namun, ini hanya indikasi kasar dan tidak bisa dijadikan patokan utama.
4. Perhitungan Campuran: Mutu beton dapat diperkirakan jika diketahui komposisi campuran saat pengecoran. Misalnya, beton K175 biasanya menggunakan perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dengan faktor air-semen tertentu.
Seorang sumber di lapangan menyebutkan bahwa kualitas pekerjaan perlu benar-benar diawasi mengingat anggaran yang cukup besar digelontorkan untuk proyek ini. “Kalau mutu betonnya tidak sesuai standar, bangunan bisa cepat rusak dan manfaat untuk masyarakat jadi berkurang,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor PT Anugrah Bayuraya Perkasa maupun Balai Wilayah Sungai Kalimantan I belum memberikan keterangan resmi terkait progres maupun standar mutu beton yang digunakan.
Proyek ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Sambas dalam menunjang sistem irigasi pertanian. Namun, transparansi, kualitas material, serta pengawasan pelaksanaan menjadi hal krusial agar hasilnya sesuai dengan peruntukan dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.(Red)
- Penulis: Redaksi

















Saat ini belum ada komentar