Surau Raden Sulaiman Kote Bangun dicat Ulang
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jum, 15 Mei 2026

Surau Raden Sulaiman Kote Bangun Kabupaten Sambas
Sambas, Lidik.co
Warga Dusun Kota Bangun, Desa Sebangun, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas, melaksanakan kegiatan pengecatan ulang Surau Raden Sulaiman. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian masyarakat dalam menjaga peninggalan sejarah Islam di Sambas.
Surau Raden Sulaiman berdiri sejak awal abad ke-16, ketika Sultan Tengah, ayah dari Raden Sulaiman mendirikan perkampungan pertama di Kota Bangun setelah datang dari Sarawak, Malaysia. Surau tersebut kemudian diberi nama sesuai putranya, Raden Sulaiman, yang kelak menjadi Sultan Sambas pertama.
Bangunan surau berukuran 10 x 9 meter dengan luas lahan 505 meter persegi, mampu menampung sekitar 100 jamaah. Keunikan surau ini masih dapat dilihat dari empat tiang utama berbahan kayu belian yang tetap dipertahankan sebagai penopang bangunan, meski atap, dinding, dan lantai sudah diganti baru. Selain itu, terdapat peninggalan berharga berupa tongkat khatib dari kayu belian berukir yang kini disimpan dalam lemari kaca agar tetap terawat.
Rudi, selaku panitia yang mendapat amanah memimpin pengecatan, menyampaikan rasa syukur atas dukungan masyarakat. Ia menuturkan:
“Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirabbil alamin, allahummasholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Segala puji syukur serta sholawat kita panjatkan ke hadirat Allah dan Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah, berkat ridho Allah dan syafaat Nabi Muhammad SAW, kami selaku yang diberi amanah untuk sedikit merenovasi salah satu peninggalan situs sejarah agung yang berada di Desa Sebangun, yaitu surau peninggalan Sultan Sambas pertama, Raden Sulaiman. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih sebesar-besarnya kepada pembina kegiatan kami yang terhormat, serta tak lupa kami ucapkan ribuan terima kasih kepada para donatur, tokoh masyarakat, dan tokoh agama yang begitu mendukung kami, baik dari segi materi maupun doa.”
Ia menambahkan, “Harapan kami, semoga pihak Pemda juga memperhatikan situs sejarah ini, terutama surau Sultan pertama, karena inilah salah satu awal mula peradaban Islam di Kabupaten Sambas. Mari kita selalu menjaga dan melestarikan peninggalan para leluhur, karena tanpa mereka mungkin negeri ini tidak akan ada.”
Salah satu tokoh masyarakat Desa Sebangun juga menegaskan pentingnya kegiatan ini. “Surau ini bukan hanya bangunan tua, tapi simbol awal mula peradaban Islam di Sambas. Dengan adanya perawatan seperti pengecatan ulang, kita bisa menunjukkan rasa hormat kepada leluhur sekaligus menjaga warisan budaya,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap pemerintah daerah turut memberi perhatian lebih terhadap situs sejarah tersebut. Surau Raden Sulaiman bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bukti awal mula peradaban Islam di Kabupaten Sambas.
- Penulis: Redaksi

















Saat ini belum ada komentar