Narasi Sejarah Dipertanyakan, Seminar “Meluruskan Sejarah Kerajaan Sambas” Siap Digelar
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sab, 4 Apr 2026

Foto Istana Kerajaan Sambas tempo dulu.
Pontianak, Lidik.co
Wacana pelurusan sejarah Kerajaan Sambas kian menguat. Sejumlah tokoh masyarakat dan pegiat budaya mendorong digelarnya seminar khusus untuk mengkaji ulang narasi sejarah yang dinilai mulai kabur dan berpotensi menimbulkan bias di tengah publik, terutama di kalangan masyarakat Sambas yang peduli terhadap eksistensi susur galur Kerajaan Sambas, Sabtu (3/4/2026).
Gagasan ini mengemuka dalam diskusi yang berlangsung sehari sebelumnya di salah satu warung kopi di kawasan Kota Baru, Pontianak. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya pegiat budaya Sambas Yanuar Ahadin, tokoh masyarakat sekaligus mantan anggota DPRD Sambas Giffarian, Ketua DPD Yayasan Lembaga Bantuan Hukum LMRRI Kalimantan Barat Yayat Darmawi, serta awak media Fredy Legito.
Para penggagas menilai, narasi sejarah Kerajaan Sambas saat ini belum sepenuhnya tersampaikan secara utuh. Di sejumlah ruang publik bahkan mulai bermunculan berbagai versi yang berpotensi mengaburkan fakta sejarah. Salah satu contoh yang mencuat adalah pertanyaan masyarakat terkait siapa yang menjadi pewaris Kesultanan Sambas pasca bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Melalui seminar bertajuk “Meluruskan Sejarah Kerajaan Sambas” para tokoh berupaya menghadirkan ruang dialog terbuka yang berbasis data, referensi, dan kajian akademik guna mengurai berbagai persepsi yang berkembang. Sebelum seminar dilaksanakan, Giffarian menyarankan agar materi yang disiapkan benar-benar ditopang oleh data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Untuk meluruskan sejarah Kerajaan Sambas, yang harus dilakukan Aad dan kawan-kawan adalah menyiapkan data yang akurat dan valid,” ujarnya.
Saat ini, Yanuar Ahadin yang akrab disapa Aad bersama rekan-rekannya tengah melakukan pengumpulan data dan referensi, baik dari dalam daerah, luar daerah, hingga luar negeri. Dalam diskusi tersebut, mereka juga didorong untuk memperkuat kajian secara akademik, yang tentu membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.
Forum ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang diskusi seremonial, tetapi mampu melahirkan pijakan bersama dalam memahami sejarah secara lebih objektif dan bertanggung jawab. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan sebagai langkah strategis untuk mendokumentasikan kembali perjalanan sejarah serta nilai-nilai budaya Sambas secara lebih sistematis, sekaligus memperkuat peran masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mendokumentasikan kembali perjalanan sejarah yang kaya akan nilai-nilai budaya, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keaslian narasi sejarah Sambas itu sendiri,” terang Yayat.
Pada akhirnya, upaya ini menjadi penegasan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi identitas yang harus dijaga agar tidak terdistorsi oleh waktu, kepentingan, maupun interpretasi yang keliru. Jika kesadaran ini diabaikan dan kepedulian terhadap kemurnian susur galur sebuah kerajaan yang pernah jaya di masa lalu memudar, maka arah masa depan akan menjadi kabur di mata masyarakatnya sendiri.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Radiman Lah
- Sumber: Yayat Darmawi

















Saat ini belum ada komentar