Ari Magang, Tradisi Turun-Temurun Warga Sambas Menyambut Idul Adha
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sel, 26 Mei 2026

Foto penjual daging Sapi lokal di pasar Semparuk
Sambas, Lidik.co
Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, suasana berbeda terasa di berbagai wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Sejak pagi hingga malam hari, masyarakat disibukkan dengan berbagai persiapan untuk menyambut hari besar keagamaan tersebut.
Di tengah masyarakat Melayu Sambas, sehari sebelum Idul Fitri, Idul Adha maupun awal Ramadan dikenal dengan sebutan “Ari Magang” atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Hari Persiapan. Tradisi turun-temurun ini menjadi penanda dimulainya berbagai persiapan menyambut momentum keagamaan yang dianggap sakral dan penuh berkah.
Pada Ari Magang, warga memanfaatkan waktu untuk menyiapkan kebutuhan keluarga, mulai dari membeli pakaian baru, menata dan membersihkan rumah, mengecat bangunan, hingga menyiapkan kebutuhan konsumsi untuk hari raya.
Tidak hanya itu, banyak keluarga juga menyiapkan uang untuk diberikan kepada anak-anak, orang tua, kerabat, tetangga, serta handai taulan sebagai bentuk silaturahmi dan berbagi kebahagiaan.
Tradisi tersebut juga terlihat dari meningkatnya aktivitas masyarakat di pasar tradisional, toko pakaian, pusat perbelanjaan hingga berbagai usaha kuliner yang menyediakan kebutuhan khas hari raya.
Berbagai hidangan tradisional mulai dipersiapkan sejak Ari Magang. Di antaranya ketupat, lontong sayur, sate ayam, sate sapi, sate kambing, serta rendang daging sapi yang hampir selalu hadir di meja makan keluarga saat Idul Adha maupun Idul Fitri.
Sementara untuk minuman, masyarakat Sambas masih mempertahankan sejumlah minuman tradisional, salah satunya “Aek Sappang” yang kerap disajikan bersama minuman kemasan dan air mineral sebagai pelengkap jamuan bagi tamu yang berkunjung.
Tak kalah penting, aneka kue khas Sambas juga mulai dibuat dan disusun rapi untuk menyambut para tamu. Beberapa yang paling populer adalah “Kueh Lapis Pulut”, “Lapis Telur” , “Lapis Kacang” , “Lapis Nanas”, “Ban Oto” serta beragam kue kering tradisional maupun modern. Berbagai jenis manisan buah juga menjadi bagian dari suguhan khas masyarakat Sambas saat hari raya.
Selain menyiapkan kebutuhan rumah tangga, Ari Magang juga identik dengan tradisi membersihkan dan merapikan diri. Mulai dari balita, remaja, orang dewasa hingga lanjut usia, banyak yang memanfaatkan momen ini untuk memangkas rambut, memotong kuku, serta membersihkan diri sebagai simbol kesiapan lahir dan batin dalam menyambut hari besar keagamaan.
Bagi masyarakat Sambas, Ari Magang bukan sekadar aktivitas belanja atau memasak. Tradisi ini menjadi bagian dari budaya yang memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, dan rasa syukur sebelum memasuki hari-hari penting dalam kehidupan beragama.
Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, tradisi Ari Magang masih terus bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini menjadi identitas budaya masyarakat Sambas yang menunjukkan bahwa persiapan menyambut hari raya bukan hanya soal kebutuhan materi, tetapi juga tentang mempererat hubungan keluarga, tetangga, dan masyarakat.
“Ari Magang adalah hari persiapan, hari kebersamaan, dan hari penuh harapan bagi masyarakat Sambas sebelum menyambut datangnya hari-hari besar keagamaan.”
- Penulis: Redaksi

















Saat ini belum ada komentar