Temajuk: Antara Narasi Strategis dan Realitas Lapangan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sab, 18 Apr 2026

Foto ilustrasi by Sigi AI
TAJUK RENCANA
Temajuk: Antara Potensi Besar dan Realisasi yang Tertunda
Kunjungan kerja Kemenko Polkam ke Desa Temajuk pekan ini kembali menegaskan satu hal yang sebenarnya sudah lama kita pahami: kawasan perbatasan bukan lagi halaman belakang, melainkan beranda depan negara.
Temajuk adalah potret paradoks itu sendiri. Di satu sisi, ia menyimpan potensi besar—pariwisata lintas negara, kekayaan ekologis, hingga peluang ekonomi berbasis masyarakat. Di sisi lain, realisasi pengembangannya masih berjalan tertatih, bahkan untuk kebutuhan paling mendasar seperti infrastruktur jalan.
Rapat koordinasi yang digelar bersama pemangku kepentingan daerah menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa pengelolaan kawasan perbatasan harus terintegrasi. Namun, kesadaran saja tidak cukup. Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, anggaran yang memadai, dan eksekusi yang konsisten.
Pernyataan tentang pentingnya investor dalam mendorong kawasan pariwisata Temajuk patut dicatat. Tetapi, di saat yang sama, ketergantungan pada investor tanpa kesiapan infrastruktur dasar justru berisiko melahirkan stagnasi baru. Investor tidak datang ke wilayah yang aksesnya masih tanah, dan negara tidak bisa terus menunggu investor untuk mulai bergerak.
Rencana pembangunan PLBN Temajuk pada 2027 menjadi sinyal positif, namun juga menyisakan pertanyaan klasik: apakah momentum ini akan dijaga, atau kembali terjebak dalam siklus perencanaan tanpa percepatan?
Kita tentu tidak menafikan bahwa efisiensi anggaran menjadi realitas nasional. Namun, jika kawasan perbatasan terus berada dalam daftar “menunggu giliran”, maka narasi penguatan pertahanan dan kesejahteraan di wilayah terluar berpotensi hanya berhenti pada forum-forum resmi.
Temajuk membutuhkan lebih dari sekadar kunjungan dan koordinasi. Ia memerlukan keberanian kebijakan—untuk memprioritaskan, mempercepat, dan memastikan bahwa pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Sebab pada akhirnya, menjaga perbatasan tidak hanya soal garis teritorial, tetapi juga tentang menghadirkan negara secara nyata di titik terluarnya.
Ujung Negeri, 18 April 2026, pukul 00:00 WIB
- Penulis: Redaksi

















Saat ini belum ada komentar