Hari Bumi Tanpa Jejak Aksi, Sungai Masih Tetap “Kopi Susu”
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jum, 1 Mei 2026

Sambas, Lidik.co
Peringatan Hari Bumi 2026 di Kabupaten Sambas nyaris tanpa gaung aksi. Di saat tema global mendorong perlindungan lingkungan, kondisi di lapangan justru menunjukkan persoalan yang belum bergerak ke arah perbaikan.
Di Desa Sepantai, Kecamatan Sejangkung, kondisi Sungai Sambas Besar masih menunjukkan warna keruh menyerupai “kopi susu”. Fenomena serupa juga tampak di sepanjang DAS Sambas Besar yang membelah Kota Sambas hingga kawasan Kartiasa, Jum’at (1/5/2026).
Yang paling mencolok terlihat di sub DAS Sungai Seminis, Kecamatan Sebawi. Ruas ini setiap hari dilintasi kendaraan roda dua dan roda empat, namun perubahan warna air yang lebih pekat dari “kopi susu” seolah menjadi pemandangan yang berlalu tanpa respons.
Ketua Yayasan Lingkungan Hidup SALAMBA pusat, Marganda Simamora, mendesak aparat penegak hukum untuk menindak tegas aktivitas PETI yang dinilai merusak lingkungan di Kabupaten Sambas.
Ia menilai kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada kualitas air, tetapi juga pada ekosistem secara keseluruhan. “Kerusakan di daerah aliran sungai akan berdampak luas, mulai dari penurunan kualitas air di bawah ambang batas hingga ancaman terhadap flora dan fauna endemik,” ujarnya.
Menurutnya, aktivitas tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat. “Pendangkalan sungai, pencemaran merkuri, hingga penurunan kualitas air dapat memicu penyakit kulit dan risiko konsumsi air yang tidak layak,” tambahnya.
Di tingkat warga, keluhan serupa terus bermunculan.
Mustafa, warga Desa Sepantai, mengaku kondisi air sungai di depan rumahnya masih keruh hingga kini.
“Airnya masih seperti kopi susu. Kadang kulit terasa gatal-gatal. Tolong pemerintah daerah bisa mengatasi pencemaran ini agar aktivitas mandi, cuci, kakus lebih bersih dan sehat,” ujarnya.
Keluhan datang pula dari Rifan, warga Kartiasa, yang menilai perubahan warna air sungai sudah berlangsung berulang.
“Air sungai di sini keruh. Saya menduga ini dampak dari aktivitas PETI atau limbah perkebunan sawit. Pemerintah daerah tentu lebih mengetahui, jadi kami berharap ada langkah nyata, apalagi di momen Hari Bumi ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Ryan alias Luncay, warga Tebas yang setiap hari melintas di jembatan sub DAS Seminis, menyebut kondisi sungai semakin mencolok.
“Hampir setiap hari saya lewat, dan hampir setiap hari juga saya lihat airnya lebih kental dari kopi susu,” katanya.
Ia berharap kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya instansi terkait yang membidangi lingkungan hidup. Menurutnya, persoalan ini bukan lagi keluhan individu, melainkan telah menjadi pembicaraan luas di kalangan masyarakat, pegiat lingkungan, hingga insan pers.
Situasi ini menghadirkan kontras yang sulit diabaikan. Di satu sisi, Hari Bumi menjadi simbol komitmen menjaga lingkungan. Di sisi lain, masyarakat masih berhadapan dengan persoalan dasar yang belum menunjukkan perubahan berarti.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Radiman Lah

















Saat ini belum ada komentar