Menyusuri Pagi Dalam Semangkuk Sup Mie Asin di Semparuk
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sab, 6 Jun 2026

Foto Sup Mie Asin khas Semparuk
Sambas, Lidik.co – Di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat pagi tidak selalu dimulai dengan tergesa-gesa. Di beberapa sudut kampung, hari justru berjalan pelan bersama aroma bawang goreng, uap kuah hangat, dan suara sendok yang beradu pelan dengan mangkuk enamel di warung sederhana.
Di Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, semangkuk bubur nasi campur sup mie asin masih menjadi salah satu menu sarapan favorit masyarakat setempat. Kuliner sederhana ini bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi, rasa, dan kehidupan masyarakat pesisir Melayu Sambas.
Sekilas tampilannya mungkin tidak terlalu mencolok. Bubur nasi lembut dipadukan dengan mie putih halus, lalu disiram kuah bening gurih yang hangat. Di atasnya bertabur ikan teri goreng kriuk, bawang goreng harum, irisan daun bawang segar, serta telur rebus yang melengkapi cita rasa.
Namun pengalaman sebenarnya baru dimulai ketika kecap asin, cuka, dan sambal cabe mulai dituangkan ke dalam mangkuk.
Aroma kuah berubah lebih hidup. Rasa gurih kaldu bertemu sentuhan asin, asam, dan pedas yang perlahan menghangatkan tubuh di pagi hari. Teri goreng yang renyah menjadi pusat perhatian dalam setiap suapan, menghadirkan tekstur kriuk yang berpadu dengan lembutnya bubur dan mie kuah hangat.
Menariknya, setiap orang punya “gaya makan” masing-masing saat menikmati sup mie asin khas Sambas ini. Ada yang menyukai tambahan kacang goreng, namun ada pula yang sengaja menyingkirkannya demi menjaga dominasi rasa gurih kuah dan kerenyahan ikan teri tetap terasa bersih.
Di warung-warung sederhana Desa Semparuk, menu sarapan seperti ini masih bisa dinikmati dengan harga sekitar Rp7 ribu per mangkuk. Harga yang terasa sangat bersahabat dibanding beberapa daerah lain yang menjual menu serupa mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
Bagi masyarakat lokal, sup mie asin mungkin hanyalah menu sarapan biasa. Namun bagi pendatang, semangkuk kuliner ini menghadirkan pengalaman kecil yang sulit dilupakan.
Ada kehangatan kampung di dalamnya. Ada keramahan warung pagi. Ada rasa sederhana yang justru membuat orang ingin kembali. Semua itu berkat tradisi “jerampah” alias sikap ramah tamah yang ikut hadir di dalam semangkuk Sup Mie Asin yang dicampur dengan Bubur Nasi.
Di tengah banyaknya makanan modern dan tren kuliner kekinian, sup mie asin khas Sambas tetap bertahan dengan caranya sendiri: sederhana, jujur, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dan kadang, perjalanan terbaik memang tidak selalu tentang tempat mewah atau makanan mahal. Kadang ia hadir dari semangkuk kuah hangat di pagi hari, ditemani cahaya matahari lembut dan obrolan santai warga kampung di tepian Sambas. 🍜☀️
- Penulis: Redaksi
- Editor: Radiman Lah

















Saat ini belum ada komentar